28 November 2020

Peta Jalan Pendidikan Kebutuhan Mendesak


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Center for Educational Quality Improvement (CeQu) Darul Hikam Bandung, Cecep Darmawan mengatakan penyusunan peta jalan pendidikan nasional adalah suatu kebutuhan mendesak. Peta jalan pendidikan harus dibuat untuk memberikan tuntutan pendidikan nasional ke depannya.


"Arah dalam membangun grand design sistem pendidikan nasional bangsa Indonesia yang handal dan responsif terhadap perkembangan zaman yang semakin akseleratif dewasa ini," kata Cecep, dalam keterangannya, Ahad (8/11).

Guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini mengatakan, pendidikan harus disiapkan menghadapi abad 21 dan era industri 4.0 menyongsong masyarakat 5.0. Hal ini harus direspon secara profesional oleh segenap elemen Banga Indonesia.

Selain itu, pembangunan bidang pendidikan tak terpisahkan dari pembangunan nasional. Cecep menegaskan, pembangunan pendidikan harus terus dilakukan secara lebih terarah untuk menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas dan kompetitif di masa depan.

Segala persiapan ini harus terarah sehingga penyusunan peta jalan untuk pendidikan nasional merupakan hal yang wajib dilakukan. Cecep mengatakan, persiapan ini penting dalam rangka menjaga eksistensi dan kelangsungan Bangsa Indonesia ke depan.

"Dengan pendidikan yang berkualitas, akan semakin mempertegas daya saing (competitiveness) bangsa Indonesia di tengah percaturan global saat ini," kata Cecep menambahkan.


Kasus Covid-19 Terus Bertambah di Tengah AKB, Ini Saran Pengamat untuk Pemkot Bandung


PRFMNEWS - Di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), kasus konfirmasi positif covid-19 di Kota Bandung tetap selalu bertambah. Hingga Minggu 8 November kemarin total kasus terkonfirmasi covid-19 di Kota Bandung mencapai 2.210 kasus.

Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk lebih teliti dalam memetakan hasil evaluasi berkala penerapan AKB di Kota Bandung.

"Jadi hasil evaluasi itulah yang akan menentukan sikap pemerintah atau kebijakan pemerintah berikutnya seperti apa. Nah yang terpenting lagi di dalam melakukan evaluasi itu poin-poin apa yang misalnya ada kelemahan, mana yang sudah bagus. Yang bagus teruskan yang lemah kemudian diperbaiki, nah itu harus dipetakan," jelas Cecep saat on air di Radio PRFM 107.5 News Channel, Senin 9 November 2020.

Kata Cecep, selain evaluasi, setiap program baru hasil dari evaluasi itupun harus disosialisasikan dengan baik kepada warga. Hal ini penting agar semua program yang direncanakan dan disusun pemerintah bisa berjalan dengan baik dan efektif.

"Hemat saya yang dibutuhkan sekarang itu evaluasi, kemudian sosialisasi, dan komunikasi. Tiga poin ini penting karena saya melihat banyak yang sudah abai," tegasnya.

Tak hanya itu, lanjut Cecep, pemerintah harus menjadi contoh bagi masyarakat dalam setiap program. Jangan sampai ada program untuk masyarakat namun pemerintah abai dalam menerapkan aturan yang dibuat.

"Jangan sampai Bandung dengan AKB yang sekarang ini ternyata misalnya ada lonjakan (kasus konfirmasi positif), ada asumsi karena ini banyak yang dites swab misalnya. Ya okey menurut saya swab lakukan terus sampai di-tracing penyebarannya dan harus dilokalisir betul, jadi program ini belum akan selesai selama masyarakat belum disiplin secara baik, pemerintah belum menerapkan law enforcement secara baik, ini butuh sinergis," tegasnya.

***

Semua Orang Bisa Jadi Pahlawan


Mediaindonesia | SETIAP orang punya potensi menjadi pahlawan, baik bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun bagi negaranya. Terkadang pahlawan itu sebetulnya hadir di tengah kita, tetapi banyak yang tidak menyadari keberadaannya.Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan mengatakan, pahlawan sejatinya adalah niat tulus ikhlas untuk berkorban demi bangsa dan negara. Pahlawan juga merupakan semangat (spirit) dan pengorbanan untuk melakukan perubahan dan kebaikan bangsa dan negara.

“Sehingga, manakala tiga nilai tersebut menyatu bukan hanya para unsur negara (TNI, Polri, dan PNS) yang berhak dianggap sebagai pahlawan. Semua orang berhak dianggap sebagai pahlawan selama mereka memiliki ketiga unsur tersebut,” ungkap Cecep saat dihubungi, kemarin. Cecep menjelaskan, aksi kepahlawanan seyogianya dilakukan secara berkelanjutan tanpa perlu menunggu panggilan hati nurani. Di mana ada ketidakadilan, di situ mereka ikut membantu tanpa perlu diminta, mengharapkan sesuatu (pamrih), atau bahkan diliput.“Di era milenial ini contohnya sudah banyak di media sosial. Banyak selebgram misalnya menyuarakan suara kebenaran, upaya memerangi hoaks, menolak hal yang bisa memecah persatuan kesatuan bangsa. Melawan bentuk provokasi ini juga bagian dari tindakan kepahlawanan,” jelas dia. 

Saat ini, menurut Cecep, spektrum kepahlawanan semakin luas. Baik itu pahlawan kebudayaan, pahlawan ekonomi, pahlawan kesehatan, pendidikan, maupun lingkungan. Tentunya, hal ini tidak bisa terbentuk tanpa adanya pendidikan, baik formal maupun informal.Peran keluarga merupakaan pendidikan informal penting yang kemudian dilanjutkan dengan pendidikan formal di sekolah. Tentunya, peran masyarakat di lingkungan sekitar tidak kalah penting.“Pemerintah makanya perlu memasukkan unsur pembentukan karakter dalam pendidikan formal juga di sekolah,” lanjut dia.

Di masa pandemi covid-19 saat ini tak sedikit pahlawan bermunculan. Mereka datang dari berbagai unsur, mulai masyarakat biasa, tenaga medis, artis, hingga selebgram.Contohnya pendiri Sekolah Kolong Cikini (Seko.Ci) yang kini sudah menjadi sebuah Yayasan Sekolah Cinta Anak, Ajeng Satiti Ayuningtyas. Sejak 5 tahun lalu, Ajeng bersama dengan teman-teman satu universitasnya mendirikan sekolah informal yang terletak di kolong Stasiun Cikini, Jakarta Pusat.Saat ini, dengan memanfaatkan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) Gondangdia, puluhan anak muda meluangkan waktu mereka setiap Minggu sore untuk mengajar anak-anak dari kelompok marginal yang ada di kawasan Menteng, Jakpus. Bemacam kegiatan edukasi dilakukan yang diharapkan juga bisa membentuk etika kesantunan dan budi pekerti serta menanamkan rasa cinta Tanah Air. Peduli anak jalananSeko.Ci bermula ketika sang penggagas, Ajeng Satiti Ayuningtyas, merasa prihatin mendengar anak-anak tersebut melontarkan kata atau kalimat kasar. Keprihatinan itu memantik ide untuk membuat sekolah, setidaknya agar mereka bisa bersikap lebih sopan.“Awal ada Seko.Ci, yang datang cuma 2–3 orang. Sampai akhirnya kita buat sesuatu yang menarik supaya mereka tertarik untuk belajar. Makin ke sini makin banyak,” kata Ajeng.

Kini, setiap Minggu sebelum masa pandemi rata-rata sekitar 24 anak-anak berusia 3–16 tahun datang untuk belajar. Anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut mayoritas bekerja di sekitar kawasan Menteng menjadi pemulung, pengamen, dan penjual tisu.Seko.Ci memiliki dua program yang disebut Mendarat dan Berlayar. Mendarat merupakan kegiatan yang dilakukan berupa mendongeng, bernyanyi, belajar membaca dan menulis, menggambar dan mewarnai, hingga mengajak mereka bercerita tentang hal-hal yang telah dipelajari. Sementara itu Berlayar merupakan program ‘jalan-jalan’ keluar seperti ke museum, tempat wisata, atau arena bermain.“Harapannya, agar mereka juga busa melakukan apa yang anak-anak lain seusia mereka,” laniut Ajeng.Selama masa pandemi, Seko.Ci pun tetap melakukan pembelajaran secara daring. Mereka hanya mengandalkan aplikasi Whatsapp dengan hanya beberapa siswa didik yang mampu mengikuti.“Karena kan enggak semua punya handphone, tapi mereka antusias kalau diajarkan meski dengan jarak jauh,” jelas dia.

Sumber: https://m.mediaindonesia.com

Bandung Diminta Tiru Daerah Lain untuk Tekan Penyebaran Covid-19


INILAH, Bandung- Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Cecep Darmawan menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meniru kebijakan daerah lain yang berhasil menekan angka kasus COVID-19.


Karena, sejauh ini kasus baru terkonfirmasi COVID-19 setiap harinya terus ada, mulai dari belasan hingga puluhan, di mana berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Bandung, kasus kumulatif COVID-19 di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat itu sudah mencapai angka 2.181 pada Sabtu (7/11) 2020.

"Mana daerah yang penanganannya baik, itu harus dicontoh. Yang saya tahu Surabaya itu relatif bagus ya, pelacakannya termasuk untuk orang kota perlakuannya bagaimana, orang dari luar kota diperlakukan bagaimana, nah seperti itu, itu bisa dijadikan model," kata Cecep saat dihubungi di Bandung, Minggu.

Dia juga menyampaikan langkah yang diambil Pemkot Bandung untuk melakukan pemeriksaan COVID-19 secara masif sudah tepat. Namun apabila angka kasus terus bertambah, menurutnya tidak bisa tetap dibiarkan.

Selain itu, ia juga meminta Pemkot Bandung untuk terus mengingatkan masyarakat akan bahayanya COVID-19 serta melakukan penindakan bagi pelanggar.

Alasannya, kata dia, saat ini di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), sebagian masyarakat nampak semakin abai terhadap kedisiplinan protokol kesehatan COVID-19.

"Kebijakan juga harus tetap diingatkan kepada semua komponen, kelihatannya di Kota Bandung dan di tempat lain, peringatan ke masyarakat juga semakin kurang ya kelihatannya. Tidak seperti saat awal-awal AKB," katanya.

Meski begitu, menurutnya tugas penanganan COVID-19 adalah kewajiban bersama dan bukan hanya pemerintah. Untuk itu, ia juga mengimbau pemerintah agar mengajak seluruh elemen tokoh masyarakat guna bersama menangani COVID-19.

"Baiknya pemerintah juga sosialisasikan secara masif, dengan melibatkan tokoh-tokoh informal, tokoh masyarakat, termasuk juga tokoh agama, berbagai komponen lah, agar sama-sama. Ini tugas bersama, tidak bisa parsial menangani COVID-19 ini," demikian Cecep Darmawan.

***

Copyright © Cecep Darmawan | Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia